Jumat, 17 Mei 2013

Cerita Rakyat Jepang: Urashima Taro

URASHIMA TARO

Versi Otogizōshi

Di Provinsi Tango, hidup seorang nelayan bernama Urashima Tarō. Pada suatu hari, ia pergi memancing namun yang terkail adalah seekor penyu. Tarō melepas penyu tersebut kembali ke laut setelah teringat, "penyu katanya bisa hidup hingga 10.000 tahun, kasihan kalau dibunuh." Beberapa hari kemudian, seorang wanita mendekati pantai dengan mendayung sendiri perahunya. Seorang tetua meminta Tarō untuk menyambut wanita yang ternyata adalah pelayan seorang putri. Sebagai ucapan terima kasih atas penyu yang telah ditolong, Tarō diundang pergi ke Istana Laut. Ditemani pelayan sang putri, Tarō naik perahu menuju ke Istana Laut. Setibanya di sana, Tarō disambut sang putri, dan hidup bersamanya selama 3 tahun. Namun, Tarō ingin pulang karena cemas dengan ayah dan ibu yang ditinggalkan di kampung halaman. Sang putri akhirnya mengaku bahwa dirinya adalah penyu yang pernah ditolong Tarō. Sebagai hadiah perpisahan, sang putri memberikan sebuah kotak perhiasan (tamatebako). Setelah Tarō tiba di kampung halaman, desa yang dulu ditinggalinya ternyata sudah tidak ada lagi. Setelah bertanya ke sana ke mari, Tarō diberi tahu bahwa di atas bukit terdapat makam Tarō dan kedua orang tuanya. Tarō begitu sedih, dan membuka kotak dari sang putri. Asap keluar sebanyak tiga kali dari dalam kotak. Tarō berubah menjadi seekor burung jenjang, dan terbang menghilang.
Dalam Otogizōshi, Istana Laut tidak berada di dasar laut, melainkan di daratan atau di pulau lain.

Versi turunan dari Otogizōshi

Seorang nelayan bernama Urashima Tarō menolong seekor penyu yang sedang disiksa sekawanan anak-anak. Sebagai rasa terima kasih telah ditolong, penyu mengajak Tarō berkunjung ke Istana Laut. Dengan menunggang penyu, Tarō pergi ke Istana Laut yang ada di dasar laut. Di sana, Tarō bertemu putri jelita di Istana Laut yang bernama Putri Oto. Bagaikan mimpi, Tarō ditemani Putri Oto selama beberapa hari. Hingga akhirnya Tarō ingin pulang. Putri Oto mencegahnya, tapi tahu usahanya akan sia-sia. Putri Oto memberinya sebuah kotak perhiasan (tamatebako), dan berpesan agar kotak tidak dibuka. Dengan menunggang seekor penyu, Tarō tiba kembali di kampung halamannya. Namun semua orang yang dikenalnya sudah tidak ada. Tarō merasa heran, lalu membuka kotak hadiah dari Putri Oto. Asap keluar dari dalam kotak, dan seketika Tarō berubah menjadi seorang laki-laki yang sangat tua. Menurut perhitungan waktu di dasar samudra, Tarō hanya tinggal selama beberapa hari saja. Namun menurut waktu di daratan, Tarō pergi selama 700 tahun.
Dalam cerita versi ini, nasib Tarō selanjutnya tidak diceritakan.

Versi Man'yōshū


Patung Urashima Tarō di Mitoyo, Kagawa
Dalam Man'yōshū volume 9 terdapat prosa karya Takahashi no Mushimaro yang merupakan prototipe kisah Urashima Tarō. Kisahnya tentang Urashima no ko dari Mizu no e. Sepulangnya dari memancing ikan selama 7 hari, ia bertemu dengan putri dewa laut bernama Putri Penyu. Setelah akrab, keduanya menikah dan hidup di istana dewa laut. Setelah tinggal di sana selama 3 tahun, ia ingin pulang memberitahukan kabar bahagia tentang pernikahannya kepada ayah dan ibunya. Sebelum berangkat, sang putri memberinya sebuah kotak yang disebut tamatebako. Setibanya di kampung halaman, desa, penduduk desa, dan rumah yang dulu ditinggalinya sudah tidak ada. Ia berpikir kalau kotak hadiah dari putri dibuka, semuanya akan kembali seperti semula. Ketika kotak dibuka, asap keluar, dan seketika rambutnya menjadi beruban semua. Urashima no ko sudah menjadi laki-laki yang sangat tua dan meninggal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar